MAHAYANA DAN HINAYANA Oleh: Ven. Abhinyana
Dua kata—Mahayana dan Hinayana—telah menyebabkan banyak kebingungan di antara para umat Buddha. Saya ingin menawarkan sebuah cara pandang yang berbeda. Kedua istilah tersebut berkaitan dengan pendekatan umat Buddha terhadap kehidupan.
Mahayana, secara literal berarti Kendaraan Besar (Pembebasan dari Samsara, atau Roda Perubahan), agak menyerupai jumbo-jet, yang mengangkut banyak orang. Hinayana, adalah istilah melecehkan yang bermakna Kendaraan Kecil atau Kendaraan Rendahan (seperti skateboard, yang hanya mengangkut satu orang); digunakan oleh orang-orang yang ‘mengklaim mengikuti jalan Mahayana’ untuk menunjuk pada pengikut sekte Therawada atau Jalan para Sesepuh, seolah-olah mereka sendiri sudah melampaui tahapan itu.
Mereka berkata bahwa para penganut Hinayana adalah selfish (mementingkan diri sendiri), hanya memikirkan keselamatannya sendiri; tidak seperti mereka yang ‘menyelamatkan semua makhluk’. Terdapat egoisme sangat besar yang mendasari klaim ini; dan kita bisa yakin bahwa siapa pun yang membuatnya, tidak mengerti apa-apa!!
Sesungguhnya, kata Hinayana adalah kesalahan sebutan, dan tidak boleh digunakan untuk menunjuk pada manusia sama sekali, baik Mahayana maupun Hinayana, seperti akan saya tunjukkan, bukanlah sekte agama Buddha, tetapi adalah sikap-sikap batin.
Sekarang ini, agama Buddha menjadi tidak jauh dari sekedar fenomena tradisi di kebanyakan wilayah Asia; dan Mahayana telah mengalami degenerasi menjadi sebuah sistem pemujaan dan doa kepada tak terhingga Buddha dan Bodhisattwa, sehingga pengharapan, ketakutan, dan klenik telah menghuni kosmos ini.
Ketidakpedulian terhadap ajaran Buddha tentang karma serta pentingnya pengembangan kebergantungan spiritual kepada diri sendiri; telah membuat manusia, dengan pikiran tak berdayanya, mencari pertolongan serta keselamatan kepada makhluk-makhluk surgawi. Mereka mengimajinasikan bahwa para Buddha maupun Bodhisattwa adalah jauh dari mereka—di suatu tempat di langit, mungkin—mirip para dewa/tuhan di agama-agama lain. Dan, mereka kehilangan poin keseluruhan berkenaan perintah perpisahan Buddha: “Tanganilah keselamatanmu sendiri dengan ketekunan.” Pencerahan adalah pengalaman batin yang intim, bukan sesuatu yang datang dari luar.
Semua umat Buddha—apapun sekte atau aliran yang mereka ikuti—mengakui gagasan ideal berkenaan Bodhisattwa sebagai Jalan Tertinggi, karena itu adalah jalan menuju Kebuddhaan. Saat mencapai tujuan akhir dan menjadi Buddha, dia lalu memiliki kemampuan menolong orang-orang lain agar Tercerahkan (bukan mengampuni dosa-dosa serta menyelamatkan mereka, tetapi lebih dalam arti seperti guru sekolah yang membimbing para siswanya serta membantu mereka sebisa mungkin, sehingga dapat lulus ujian dan diwisuda; Buddha tidak bisa mewakili para siswa agar lulus ujian).
Setelah mencapai Pencerahan, dia bukan lagi Bodhisattwa, tetapi seorang Buddha sepenuhnya. Ketika masih menjadi Bodhisattwa, seperti yang terjadi pada Pangeran Siddharta hingga usia 35 tahun, dia belum sepenuhnya tercerahkan: sesungguhnya, dia bahkan tidak tahu bahwa dia adalah Bodhisattwa.
Arahat adalah orang yang, dengan mengikuti Dharma Buddha, mencapai Pencerahan; dan Pencerahan yang dicapainya sama dengan yang dicapai Buddha (tak terkondisi dan tanpa tingkatantingkatan atau terbagi-bagi). Dia juga dapat mendampingi orangorang lain, tetapi kapasitasnya masih di bawah Buddha.
Buddha adalah juga Arahat, tetapi Arahat tidak selalu Buddha; seperti halnya semua dokter adalah manusia, tetap tidak semua manusia adalah dokter. Baik Buddha dan Arahat sudah terbebas dari rantai Samsara (eksistensi yang bersifat fenomenal); mereka tidak lagi memiliki rasa keberjarakan (keterpisahan dengan makhluk lain) dan selfishness (selalu mementingkan diri sendiri). (Semua penjelasan tersebut, tentu saja, adalah dari naskah-naskah, dan bukan dari pengalaman saya sendiri).
Jauh dari cara memohon dan berdoa agar mendapat pertolongan dari makhluk-makhluk unggulan dan surgawi, Mahayana adalah jalan berusaha yang luar biasa. Orang yang di Jalan ini, tidaklah menyembah Buddha atau Bodhisattwa; tetapi, dengan menggunakan Dharma, berkehendak teguh agar menjadi Bodhisattwa itu sendiri. Dia melakukannya, bukan dengan menyangkal atau menolak dunia, tetapi dengan memahami bahwa dia adalah dunia, dan bahwa dia tidak bisa hidup oleh dan untuk dirinya sendiri.
Kepentingan-diri dan kekhawatiran diri akan menurun setara dengan kemampuan dia melihat dirinya sebagai orang lain; seperti halnya rasa keberjarakan dan ego akan meningkat setara dengan kekhawatiran-diri maupun penderitaan diri. Sebagai ilustrasi, anggaplah terdapat tiga jenis orang di dunia: (1) orang buta; (2) orang selfish, dan (3) orang tanpa-aku.
Orang buta, yaitu buta secara spiritual, berkelana tanpa tujuan menjalani kehidupan, tidak tahu dan tidak peduli tentang Dharma, tergila-gila pada diri sendiri, tetapi bertindak yang merugikan dirinya sendiri, dan hanya berdampak pada penderitaan; menyangka bahwa mereka mencintai dirinya, tetapi sesungguhnya tidak. Mereka tidak jahat, atau selfish, tetapi bodoh.
Selfishness melebihi dan melampaui mereka, karena orang yang selfish tahu cara merawat diri; paling tidak, dibandingkan orang buta dan orang bodoh yang tidak tahu cara merawat diri serta hanya menyakiti diri. Terdapat sangat banyak orang buta di dunia
ini; dunia sedang ‘ditenggelamkan’ di bawah bebannya. Jika mereka terjaga dari keterlelapan, maka mereka akan mengubah arah.
Orang selfish sedikit menguasai Dharma, dan mencoba hidup berdasar Dharma, tetapi pandangan mereka belum mendalam, dan mereka termotivasi oleh kepentingan-diri. Mereka mencoba agar tidak menyakiti orang lain, serta melakukan apa yang tepat dan baik; namun dikarenakan takut akan penderitaan atau hasrat memperoleh materi dan/atau spiritualitas. Tetapi, jika dunia memiliki lebih banyak orang jenis ini, maka akan menjadi tempat yang jauh lebih baik; karena seorang selfish sejati tidak akan membunuh, mencuri, berbohong, curang, memulai serta menyebarkan peperangan, dan sebagainya; orang bodohlah yang melakukannya.
Tidak melakukan kejahatan maupun bertindak kebaikan yang dilakukan orang selfish, meskipun dimotivasi oleh pemikiranpemikiran ’Aku’, memberikan manfaat bagi dunia dalam banyak cara, dan menjaga agar dunia tetap ‘mengambang’ di permukaan.
Tetapi, seperti mekarnya bunga, kebaikan di tahapan ini tidak sepenuhnya atau lengkap, namun adalah sebuah tahapan-wajib dari Jalan (Pencerahan); kita harus mulai dengan ‘Aku’, agar bisa memahami dan melampauinya. Tentu saja, selfishness di sini bukanlah yang dimengerti secara umum, sebagai sesuatu yang negatif dan anti sosial; bukan sama sekali!
Jenis selfishness yang ini mengakui kehadiran orang lain serta bersimpati terhadap mereka, meskipun kepentingan diri sendiri yang didahulukan. Ini bisa disebut sebagai tahapan Hinayana, dan tidak boleh dipandang rendah, tetapi harus dihormati dan dipuji, karena sudahlah sebuah level yang tinggi. Sering, kita mendapati orang mengklaim dirinya sebagai Mahayana, namun memandang rendah orang lain yang mereka anggap sebagai Hinayana; mereka telah memperoleh tidak lebih dari kebodohan dan nama kosong.
Bergerak melampaui ’Aku’, ke tahapan ketiga—yaitu Mahayana—dicapai melalui pandangan-jernih, bahwa kita tidak hidup sendirian, oleh dan untuk diri sendiri. Kehidupan adalah sebuah kesatuan, dengan banyak komponen-komponen, seperti sebuah intan bersisi banyak; kita tidaklah saling-terpisah serta sendirian, tetapi saling-bergantung dengan segala yang ada.
Dan, sementara sebelumnya, kita termotivasi oleh pemikiranpemikiran tentang ‘Aku’—ketakutan akan penderitaan, usia tua, sakit, mati, tidak mencapai Pencerahan, dan karena itu jelas tetap berada di Samsara; sekarang, melalui pandangan-jernih
(kebijaksanaan), kita memiliki kendali atas sifat kehidupan yang selalu berubah. Kita melihat bahwa sebagian besar penderitaan berasal dari ketidaktahuan dan kebodohan, dan karena itu bisa dihindari—sebuah penemuan yang amat sangat penting!
Bukannya mencari penyebab-penyebab masalah di luar diri kita, kita menemukan penyebab-penyebab tersebut ada di dalam diri kita sendiri! Lalu, dengan kemampuan kita untuk mengkomunikasikan hal ini kepada orang-orang lain yang mungkin siap mendengarnya, untuk meneriakkannya dari puncak-puncak atap, untuk memproklamirkan kepada orangorang lain bahwa satu-satunya rantai yang mengikat kita adalah kepalsuan kita sendiri.
Inilah yang disebut Mahayana, inilah esensi dari Pencerahan (yang tersedia bagi semua orang); Mahayana bukanlah sekte umat Buddha atau pemikiran dengan batin separatis. Kita bisa mengikuti Mahayana, tetapi semua orang yang rendah hati tidak akan mengatakannya; dia mungkin tidak menyadari, dan mungkin bahkan menyangkalnya!
Tidak ada tanda-tanda eksternal untuk mengenali seorang Bodhisattwa; jelas, dia tidak akan berkeliaran mengambang di atas bunga teratai, seperti digambarkan dalam seni Buddha yang populer namun menyesatkan. Dan, jika seorang Bodhisattwa bisa menolong orang lain, maka dia akan menolong; tidak perlu berdoa padanya, tetapi orang tersebut cukup dengan menempatkan diri di posisi agar dapat ditolong, yaitu dengan terlebih dahulu menolong orang lain.
Jika kita tidak memposisikan diri dalam cara ini, maka kita tidak akan memiliki dasar atau landasan untuk menerima pertolongan dari orang-orang lain. Kita harus memberi dulu, sebelum dapat menerima, taburlah benih sebelum menuai panenan.
Kesimpulan: Mahayana dan Hinayana adalah sikap-sikap batin atau tahapan-tahapan kesadaran, bukan sekte atau aliran agama Buddha.
Diterjemahkan oleh: Dharma Kesuma
Biografi Ven. Abhinyana
Yang Mulia Abhinyana (1946-2008) lahir di Inggris dari keluarga Protestan. Pada tahun 1970, saat liburan musim panas di India , beliau pertama kali mengenal agama Buddha dan menemukan bahwa agama inilah yang perlu beliau ikuti dan praktikkan. Akhirnya, pada tahun 1972, beliau meninggalkan rumah dan menjadi biksu Buddha dalam tradisi Theravada Thailand di Malaysia .
Sejak tahun 1979, beliau memulai karier mengajarnya di berbagai tempat, untuk menyebarkan ajaran Buddha kepada semua orang dengan tujuan membantu mereka terbebas dari penderitaan dan meraih kebahagiaan. Beliau juga sering bepergian untuk memberikan ceramah Dhamma kepada mereka yang ingin mempelajari dan mempraktikkan Buddhisme .
Yang Mulia Abhinyana adalah seorang vegetarian yang ketat dan berkata:
Beberapa umat Buddha berpendapat bahwa Buddha tidak pernah mengatakan kita harus menjadi vegetarian, dan bahwa para biksu (yang sebagian besar aturan Buddha berlaku untuk mereka) boleh memakan apa pun yang dipersembahkan kepada mereka, selama mereka tidak melihat, mendengar, atau curiga bahwa hewan, ikan, atau unggas tersebut disembelih khusus untuk mereka; jika mereka melihat, mendengar, atau curiga, mereka dilarang memakan dagingnya. Namun, sudut pandang ini sama sekali tidak dapat dipertahankan, sebagaimana yang dapat dilihat oleh siapa pun yang memandang sesuatu secara objektif. Dan mengatakan, seperti yang dilakukan beberapa orang, bahwa dengan memakan daging, mereka membantu hewan dalam pertumbuhan spiritual mereka, terlalu konyol dan transparan untuk dipertimbangkan secara serius. Pertama, Buddha tidak pernah mengajak siapa pun untuk percaya atau mengikuti-Nya; sebaliknya, Beliau mendorong orang-orang untuk melihat sendiri dan menemukan kebenaran. Meskipun demikian, banyak umat Buddha menjadi tawanan buku, mengulang-ulang hal-hal seperti burung beo atau perekam pita, tanpa menyelidiki, sehingga kehilangan nilai agung Jalan Buddha, yaitu Jalan kemandirian .
Ia meninggal karena kanker esofagus pada tahun 2008. Ia menulis beberapa buku dan buku terakhirnya Parting Shots , diterbitkan sebagai buku daring gratis sesaat sebelum ia meninggal.