Kebangsaan atau Kemanusiaan yang Utama?

Sahabat Wulan Bahagia, Tahun 1942, di tengah Perang Dunia II, sebuah kapal kecil penuh anak-anak yatim Polandia yang kelaparan, terombang-ambing di sepanjang pantai India.

Mereka telah menyeberangi benua, meloloskan diri dari Gulag Soviet, yakni kamp kerja paksa Uni Soviet, terutama di bawah pemerintahan Joseph Stalin dari tahun 1930-an hingga awal 1950-an. Kamp ini telah mengubur orang tua anak-anak ini dalam salju membeku. Mereka yang ada di kapal, telah melalui rangkaian kelaparan, putus asa, penyakit, dan trauma yang tak terbayangkan.

Tapi akhirnya ketika mereka mencapai India yang dijajah Inggris, Inggris menolak mereka.

Harapan hidup yang mulai terpancar, redup kembali. Apakah ada manusia yang membiarkan manusia lain mati dalam ketidakberdayaan sementara ia bisa menyelamatkannya?

Pelabuhan - pelabuhan yang mereka tuju menutup pintu, jawaban yang sama: “Tolak masuk!.” “Bukan masalah kami!"Putar balik kapal itu!.”

Mereka adalah anak-anak yang telah kehilangan segalanya. Dan dunia — sekali lagi — memalingkan wajahnya.

Hingga menjadi perhatian dan kegelisahan seorang Raja India, beliau berkata: “Sudah cukup.”

Ia adalah Maharaja Jam Saheb Digvijaysinhji Ranjitsinhji Jadeja, penguasa Nawanagar, di Gujarat saat itu.

Ketika dia mendengar bahwa ratusan anak Polandia terdampar di laut, ditolak oleh pemerintah kolonial yang menguasai tanahnya, dia tidak ragu, tidak kompromi, dan tak menghitung risiko politik. Dia hanya berkata: “Bawa mereka kepadaku!"

Dia berkata kepada penjajah Inggris: “Jika kalian tidak akan menyelamatkan mereka… aku yang akan melakukan itu!"

Akhirnya kapal itu berlabuh di wilayahnya — bukan karena diijinkan penjajah Inggris, tapi rasa kemanusiaan seorang raja jajahan mengalahkan kekejaman penjajah.

Kalian bukan lagi anak yatim. Kalian sekarang adalah Nawanagaris. Dan aku adalah ayahmu,” kata Maharaja kepada anak-anak Polandia itu.

Maharaja tidak membangun kamp pengungsi. Dia membangun rumah dalam arti sebenarnya. Ia menjadi ayah dari anak-anak itu.Dan dia memastikan rumah itu terasa seperti Polandia, dengan guru Polandia, pengasuh Polandia, makanan Polandia, hari libur Polandia, doa Polandia, dan budaya Polandia.

Rumah itu dikenal sebagai Balachadi Camp, letaknya dekat istana, menjadi suaka dari tahun 1942 hingga 1946.

Para pengungsi mengatakan: “Kami tiba sebagai anak yatim. Kami pergi sebagai keluarga.” “Dia mengembalikan masa kecil kami.” “Dia adalah Bapu kami — ayah kami.”

Banyak dari mereka tumbuh menjadi dokter, profesor, diplomat, insinyur.
Dan mereka membawa satu kenangan selama-lamanya: Raja India menyelamatkan nyawa mereka, ketika penguasa inggris memalingkan wajah.

Puluhan tahun kemudian, Polandia Menghormati maharaja Jam Saheb Digvijaysinhji Ranjitsinhji Jadeja sebagai pahlawan nasional Polandia. Parlemen Polandia mengatakan: “Kami mengenang Maharaja sebagai seorang yang melihat anak-anak kami bukan sebagai orang asing, tapi sebagai manusia.”

Aksi Maharaja itu bukan karena dorongan politik. Karena itu tidak strategis. Juga bukan kewajibannya. Tapi itu murni kemanusiaan— sebuah pengingat bahwa kebangsaan tidak menyelamatkan manusia… tapi rasa kemanusiaan yang menyelamatkan manusia.

Pesan moral dari cerita ini adalah bahwa kemanusiaan dan belas kasih tak mengenal batas negara, agama atau politik.

Maharaja Jam Saheb Digvijaysinhji Ranjitsinhji Jadeja menunjukkan bahwa dengan keberanian dan kemauan untuk membantu, kita dapat membuat perbedaan besar dalam kehidupan ini.

Jadi apakah anda masih berputar dalam kebangsaan atau sudah mencapai kemanusiaan?

Previous
Previous

Bianhong (辨 弘), Jejak Bhiksu Jawa dalam Tantra Tiongkok dan Shingong Jepang.

Next
Next

MAHAYANA DAN HINAYANA Oleh: Ven. Abhinyana