Kesabaran: Perhiasan Mulia di Usia Senja
Sahabat Wulan Bahagia, Kesabaran (khanti) bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan batin tertinggi.
Orang kuat bukanlah yang mampu mengalahkan orang lain, tetapi yang mampu menjaga batinnya tetap tenang saat menghadapi keadaan tak menyenangkan.
“Khantī paramaṃ tapo titikkhā”
Kesabaran adalah tapa (latihan batin) yang tertinggi.
(Dhammapada 184)
Mengapa Kesabaran Penting di Usia Lanjut
Di usia senja, kesabaran sering diuji:
Karena tubuh tak lagi setangguh dulu. Penyakit datang silih berganti. Perubahan sikap anak atau lingkungan. Perasaan tak dibutuhkan. Tanpa kesabaran, batin mudah gelisah, marah, dan sedih. Dengan kesabaran, semua jadi ladang latihan memupuk kebijaksanaan.
Kesabaran Bukan Menekan Diri
Kesabaran bukan berarti memendam emosi atau membiarkan ketidakadilan. Kesabaran adalah melihat dengan jernih, menerima kenyataan apa adanya, lalu merespons dengan bijaksana, bukan reaksi emosional.
Buddha mengajarkan akibat dari kemarahan:
“Ia merugikan dirinya sendiri,
ia merugikan orang lain,
ia merugikan keduanya.”
(Itivuttaka 3.25 – Kodha Sutta)
Kesabaran terhadap Tubuh yang Menua
Tubuh yang lambat, sakit, dan rapuh sering membuat batin tidak sabar. Namun Buddha mengingatkan bahwa tubuh ini hanyalah rangkaian unsur yang memang tunduk pada hukum alam.
Dengan mengetahui bahwa tubuh ini rapuh bagaikan tempayan,hendaknya seseorang memperkokoh pikirannya bagaikan benteng kota,dan melenyapkan Mara dengan senjata kebijaksanaan.Ia harus menjaga apa yang telah dicapainya,dan hidup tanpa ikatan lagi.
(Dhammapada 40)
Dengan kesabaran, kita belajar berkata dalam hati: “Beginilah sifat tubuh. Aku tidak harus membencinya.”
Kesabaran terhadap Orang Lain
Di usia lanjut, perbedaan pendapat dengan anak, menantu, atau cucu bisa menimbulkan luka batin.
Kesabaran membuat kita mampu diam tanpa membenci, berbicara tanpa melukai, dan melepaskan tanpa memutus cinta kasih.
Latihan Kesabaran Sederhana
1. Sadar pada nafas yang keluar dan masuk saat emosi muncul. Nafas masuk kita tahu nafas masuk. Nafas keluar kita tahu nafas keluar. Nafas panjang kita tahu nafas panjang. Nafas pendek kita tahu nafas pendek.
2. Menunda reaksi beberapa detik sebelum bicara. Jangan terburu-buru merespon sesuatu. Tarik nafas dulu. Tenangkan diri sejenak. Kadang kita menyadari, sesungguhnya kita cukup menjadi pendengar yang baik. Semua akan berlalu seperti tak pernah terjadi.
3. Mengulang perenungan: “Ini juga akan berlalu” mengulang perenungan ini bisa membuat kita sadar semua anicca, tidak ada yang abadi selain ketiadaabadian itu sendiri. Semua akan berlalu seperti tak pernah terjadi.
4. Memancarkan mettā kepada diri sendiri dan orang lain. Pentingnya mengingat kebaikan orang lain. Kadang saat emosi kita seolah ingin 'menghancurkan' semua. Tapi ketika kita mengingat kebaikan yang pernah mereka berikan, rasa benci itu luluh. Dimanapun berada, kebencian hanya bisa ditaklukkan oleh cinta kasih. Kembangkanlah metta pada diri kita dan orang lain.
Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih
kalahkan kejahatan dengan kebaikan
Kalahkan kekikiran dengan memberi
kalahkan dusta dengan kebenaran.
(Dhammapada 223)
Kesabaran dan Kebebasan Batin
Kesabaran menumbuhkan ketenangan, ketenangan melahirkan kebijaksanaan, dan kebijaksanaan membawa kebebasan batin.
Orang yang sabar tidak mengalah karena lemah, tetapi karena ia memiliki cinta dan tak ingin menambah penderitaan bagi diri sendiri maupun mahkluk lain.
Penutup
Di usia muda, kita berjuang dengan tenaga.
Di usia tua, kita bertumbuh dengan kesabaran.
Kesabaran adalah perhiasan batin yang membuat usia senja bersinar lembut dan bermakna.