Bianhong (辨 弘), Jejak Bhiksu Jawa dalam Tantra Tiongkok dan Shingong Jepang.

Sahabat Wulan Bahagia,

Sebagai kita ketahui, Buddhism' masuk Nusantara dari abad 5, berkembang pesat, lalu memudar dan lenyap seiring masuknya Islam dari abad 13 sampai 15 .

Kerajaan Hindu Buddha terutama di Jawa dengan cecandian begitu banyak, ironi tak banyak diketahui bhikkhu yang tercatat pernah ada di Jawa selain Jhanabadra di abad 7 dari catatan biksu Tiongkok I-Tsing (Yijing), menyebutkan Jawa (Kalingga) sebagai pusat studi Buddha, di mana Hwi-ning datang untuk menerjemahkan kitab suci, dibantu oleh Janabadra.

Nah, melalui buku karya Kūkai (774–835 M) biksu Esoterik Buddhis dari Jepang, dunia akhirnya tahu kalau dari Jawa juga muncul mahaguru yang karya manual booknya  digunakan dalam ajaran eksoterik di Tiongkok dan Jepang.

Kūkai pendiri Shingon Jepang
Kūkai menempuh perjalanan ke Tiongkok pada 804 M untuk mempelajari Buddhisme esoterik (tantrayana / Vajrayana) di bawah guru besar Huiguo (746–805 M) — kepala tradisi esoterik di Yīntáng / Qinglong Temple.

Begitu melihatnya, tulis  Kūkai, Huiguo langsung tahu ia adalah penerus transmisinya di Jepang, ia dibawa ke aula utama menerima 2 transmisi. Kūkai sebenarnya ingin menetap dan belajar 20 tahun di Tiongkok. Tapi dianggap telah menguasai dan faktor kesehatan, empat bulan kemudian gurunya meminta ia membawa ajarannya ke Jepang. Kūkai mendirikan Shingon, beradaptasi dan menyebarkannya di Jepang menjadi sekte besar yang disegani hingga kini.

Adalah Himitsu Mandarakyō Fuhōden, dimana Kūkai mencatat kisah transmisi ajaran rahasia dan silsilah guru-murid (lineage) dari gurunya Huige kepada dirinya dan para saudara sepeguruan seperti Bianhong (辨 弘)

Dalam catatan spritual aliran Shingon tersebut, Kūkai menceritakan awal bertemu dengan gurunya Huige tahun 804. Ditilik tahun bertemunya, Bianhong yang tiba tahun 780  adalah kakak sepeguruan Kūkai.

Siapa Bianhong (辨 弘)?
Bianhong (辨 弘)  adalah seorang biksu dari Ya Va Ti (Jawa) pada abad ke 8— yang melakukan perjalanan ke Tiongkok.

Menurut Kūkai, sebelumnya saat di Ho Ling (Kalingga), Bianhong  tiba-tiba bertemu dengan seorang pria yang menyarankannya tidak mencari inisiasi Vairocanābhisaṃbodhi di India selatan, namun ke wilayah Tang di Tiongkok. Pria itu mengatakan bahwa ajaran Vairocanābhisaṃbodhi telah ditransmisikan oleh Amogha ke Tang.

"Muridnya Amogha, Acharya Huiguo, kini ada di Biara Qinglong di Chang'an. Jika tinggal di sana kamu akan bertemu Huiguo. Kalau tidak, sulit didapat," kata pria misterius itu.

Begitu ucapannya selesai, dikisahkan pria itu tiba-tiba menghilang. Sontak Bianhong tahu bahwa itu adalah makhluk suci yang memberi petunjuk. Bianhong lalu berlayar ke Tiongkok. Dikatakan bahwa perjumpaan mistis itu adalah buah dari latihan mantra-dharani yang dilakukan Bianhong.

Bianhong memberi persembahan ritual — tujuh permata, mangkuk, kulit kerang, vas tembikar, dan barang ritual/aromatik — kepada guru Huiguo sebagai tanda hormat.Itu adalah benda-benda yang lazim dipakai untuk ritual tantra.

Sambil melakukan persembahan, Bianhong mengungkapkan minat untuk mendapatkan ajaran esoterik tentang Mandala Rahim (Garbhakoṣadhātu), alam metafisikal yang mendatangkan Buddha Vairocana, menyatu dengan para Buddha dan Bodhisatwa, yang kesemuanya merupakan simbol cinta kasih.

Meski awalnya ada kendala bahasa untuk komunikasi, inisiasi pun juga diberikan.

Kūkai mencatat, tidak ada bhiksu lain dari Asia Tenggara selain Bianhong yang mendapatkan abhiseka mendapat izin menanam tantra di kekaisaran Tang. Dicatat juga bahwa Bianhong lalu mendapatkan abhiseka Vajradhātu-mahāmandala di Biara Daxingshan. Namun tidak jelas yang memberi abhiseka, apakah Huiguo, atau guru lainnya.

Sesudah mendapatkan abhiseka kedua Mandala, dikatakan bahwa Bianhong pindah ke Biara Shengshan di timur Negeri Tang. Patut diketahui bahwa para bhiksu yang berbasis bahasa Sansekerta (termasuk dari Nusantara) melingkupi dan dikendalikan secara ketat oleh penguasa Negeri Tang. Dan biara yang ditempati Bianhong ini sangat erat kaitannya dengan penguasa.

Kedatangan Bianhong — menunjukkan ada koneksi lama antara Asia Tenggara dan Buddhisme esoterik Tiongkok/Jepang.

Iain Sinclair, Ph.D., seorang pakar sejarah Asia Tenggara dari Monash University mengakui, tokoh kunci dalam transmisi Buddhisme abad ke-8 antara dunia Sansekerta dan Oriental adalah seorang bhiksu yang dikenal dengan nama China-nya Bianhong, yang kemungkinan dalam bahasa Sansekerta disebut sebagai Ājñāgarbha

Asalnya disebutkan dari Heling/Holing, yang diperkirakan adalah Kalingga, sebuah wilayah kerajaan di pesisir utara Jawa Tengah. Sinclair menyebut Vajrabodhi di tahun 719, dan muridnya Amoghavajra di tahun 740 pernah mengunjungi Kalingga. Kedua nama tersebut adalah bhiksu India yang tercatat sebagai sesepuh atau patriark Buddhisme Shingon Jepang. Amoghavajra kemudian diketahui menjadi guru dari Huige.

Tidak diketahui bagaimana kehidupan Bianhong di Kalingga. Namun Sinclair menduga Bianhong sudah ditahbiskan menjadi bhiksu ketika di Jawa. Menurut sebuah anekdot dari Kūkai, ketika di Kalingga, Bianhong sudah mencapai realisasi dalam praktik Bodhisatwa Cintāmani Cakravartin, yang merupakan salah satu bentuk Avalokiteśvara.

Dharani Cintāmani Cakravartin memang populer di Asia Selatan, Jawa dan Asia Timur saat itu. Arca Bodhisatwa Cintāmani Cakravartin berlengan enam yang ditemukan di Gunung Dieng dan dekat Candi Prambanan adalah buktinya.

Dalam artikelnya “Penobatan dan Pembebasan Menurut Seorang Biksu Jawa di Tiongkok” dalam buku “Esoteric Buddhism in Medieval Maritime Asia” (2016), Sinclair menyebut, sampai saat ini, kehidupan dan karya Bianhong hanya diketahui, terutama dari satu cerita yang tersebar di Jepang oleh rekannya sesama bhiksu seperguruan yang lebih terkenal, Kūkai.

Ia mengungkapkan, saat ini satu-satunya naskah tulisan Bianhong yang masih bisa ditemukan adalah naskah manual ritual untuk inisiasi ke Mandala Agung dari Uṣṇīṣa-Cakravartin (Taishō Tripiṭaka 959).

“Meskipun Bianhong sering didiskusikan sehubungan dengan penyebaran agama Buddha di tanah airnya di Jawa, manualnya telah diabaikan sepenuhnya hingga saat ini. Tidak ada orang lain dari Jawa yang diketahui pernah melakukan perjalanan ke Kekaisaran Tang dan menulis dalam bahasa China,” tulis Sinclair.

Ia menyebut, salah satu bentuk ritual dalam manual itu adalah ritual inisiasi (abhiṣeka) penguasa dunia atau cakravartin. Ini adalah suatu proses yang menarik banyak penganut agama Buddha di Asia Selatan, Timur, dan Tenggara pada saat itu.

Menurut dia, Bianhong muncul dalam sejarah setelah transmisi pertama Buddhisme Tantra ke Dinasti Tang Tiongkok. Kebaruan bentuk Buddhisme ini terletak pada format bahwa ia diturunkan dari guru ke murid melalui inisiasi, dan kemampuan untuk memanfaatkan kekuatan Buddha dan Bodhisatwa melalui mantra dan meditasi yoga.

Itu memiliki karakter eksklusif yang cocok untuk para bhiksu berbakat dan orang awam yang suka berpetualang — terutama mereka yang berada di elit kekuasaan, yang untuknya ritual inisiasi (abhiṣeka) dapat dilakukan dengan efek penuh sebagai penobatan (rājyābhiṣeka).

Bianhong sendiri menurutnya tercatat aktif di Tiongkok pada tahun 780 dan 806. Tanggal lahir maupun kematiannya tidak diketahui. Diduga, Bianhong lahir sekitar dua dekade sebelum menginjakkan kaki di Tiongkok.

Awal abad ke-9, tercatat Bianhong berpindah ke kawasan Bianzhou, yang letaknya lebih utara. Ini adalah tempat terakhir yang tercatat sebagai tempat tinggalnya. Di sini Bianhong getol menyebarkan ajaran rahasia mandala, di saat ajaran Chan (Zen) sedang berkembang pesat. Tahun 805 gurunya Huiguo tutup usia, dan dikatakan Bianhong lalu melakukan latihan namaskara atau sujud selama lima hari.

Nama Bianhong tak terdengar lagi sampai gelombang kedua orang Jepang datang ke Tiongkok mempelajari Buddhisme Tantra. Pada tahun 839, seorang bhiksu Tiongkok yang merupakan murid Bianhong, Quanya, bertemu dengan Ennin (794-864M), bhiksu asal Jepang. Nama Bianhong disebut dalam catatan Ennin, sebagai guru Bhiksu Quanya, yang memberikan transmisi dua mandala, Vajradhātu dan Garbhadhātu.

Iain Sinclair berkesimpulan, tidak ada indikasi Bianhong kembali ke Kalingga, atau sekadar punya kebebasan untuk melakukannya. Hampir dapat dipastikan, putra Jawa ini menutup usia di negeri orang, meninggalkan banyak misteri dan kisah yang belum terungkap.

Pandangan berbeda disampaikan pakar Buddhisme asal Indonesia, Hudaya Kandahjaya Ph.D. Dirinya menyebut bahwa setelah mencari ilmu ke negeri Tiongkok, Bianhong lalu kembali ke Jawa dan selanjutnya mempengaruhi desain Borobudur. Lewat disertasinya tahun 2004, “A Study on the Origin and Significance of Borobudur” ia menyebut Bianhong sebenarnya sudah mempelajari Buddhisme esoterik di Jawa, namun ingin belajar lebih banyak.

Ia mulanya ingin belajar lebih lanjut ke India Selatan, namun ketika mendengar bahwa ajaran esoterik telah membawa Amoghavajra ke Tiongkok, Bianhong lalu bertolak ke Negeri Tirai Bambu pada tahun 780. Hudaya Kandahjaya menduga, pengetahuan Bianhong akan mandala dari Buddha Vairocana, menyebabkannya menjadi salah satu tokoh penting dalam pembangunan Candi Borobudur.

Previous
Previous

10 Cara 'Menolak' Tua

Next
Next

Kebangsaan atau Kemanusiaan yang Utama?