Walk for Peace
Sahabat Wulan Bahagia, ada sebuah ramalan Padmasambawa yang sangat terkenal, yakni:
"Ketika burung besi terbang dan kuda berlari di atas roda, rakyat Tibet akan tersebar seperti semut di seluruh muka bumi, dan Dharma akan datang ke tanah orang-orang merah."
Burung besi ditafsirkan pesawat terbang. Kuda berlari di atas roda ditafsirkan kendaraan bermotor.Dharma akan datang ke tanah orang-orang merah": Ditafsirkan sebagai penyebaran ajaran Buddha (Dharma) ke dunia Barat.
Nah, sepekan ini dunia terutama Amerika takjub melihat Walk for Peace, atau Berjalan untuk perdamaian, welas asih, dan non kekerasan. Kegiatan ini diprakarsai 19 biarawan Buddhis dari Pusat Vipassana Huong Dao di Fort Worth, Texas, Amerika.
Perjalanan dimulai pada 26 Oktober 2025, dari Fort Worth, Texas, melalui Amerika tenggara, melewati negara-negara bagian Louisiana, Mississippi, Alabama, dan Georgia. Berlanjut ke utara melalui Carolina, Virginia sebelum berakhir di Washington, D.C pada Februari 2026, menempuh jarak 2.300 mil (3.700 km).
Para biksu mempertahankan kecepatan berjalan meditatif dan berhenti di berbagai komunitas sepanjang jalan, untuk berinteraksi dan berbagi vibrasi damai dengan penduduk setempat.
Tiga bhikkhu, termasuk pimpinannya Bhikkhu Pannakara, memilih berjalan tanpa alas kaki.
Di perjalanan ini, para bhikkhu membawa simbol-simbol dan berinteraksi dengan masyarakat melalui kehadiran yang tenang, damai, bukan melalui pesan politik. Mereka membagikan gelang kepada orang-orang yang mereka temui, sebuah simbol perlindungannya dan berkah.
Para biarawan mendokumentasikan perjalanan di media sosial, ditemani seekor anjing bernama Aloka, yang menjadi figur simbolis perjalanan tersebut.
Terinspirasi ajaran Buddha Gautama, Walk for Peace bertujuan meningkatkan "kesadaran akan perdamaian, kasih sayang, dan welas asih di seluruh Amerika dan dunia".
Kegiatan Walk for Peace ini mendapat sambutan positif berbagai komunitas, dengan media berita lokal dan para pengguna media sosial menyoroti pemandangan unik kelompok bhikkhu yang berjalan kaki mengenakan jubah bhikkhu.
Meskipun banyak orang barat yang telah menjadi Buddhis, bahkan banyak bhikkhu dan bhikkhuni populer adalah orang barat, namun pemandangan kelompok bhikkhu berbaris, berjalan di keramaian tetap membawa vibrasi damai luar biasa. Menggetarkan hati insan yang menatap, apapun agamanya, karena yang dunia butuhkan adalah kedamaian.
Semoga pesan damai dan kelompok murid Buddha berjalan meditatif di pagi hari terus berlanjut, menjadi tradisi yang terus hidup tak hanya di negara Asia, tapi seperti ramalan Padmasambhawa berlanjut di Barat. Tapi, jangan sampai nantinya kita di Asia yang harus berguru Buddhism ke Barat?
Di Barat, kini tumbuh Jewbu (Yahudi Buddhist).
Banyak guru meditasi terkemuka di Barat berasal dari latar belakang Yahudi, di antaranya: Jack Kornfield: Tokoh meditasi Vipassana terkemuka, Sharon Salzberg: Penulis dan guru meditasi metta, Joseph Goldstein: Salah satu pendiri Insight Meditation Society, Lama Surya Das (Jeffrey Miller), Guru Buddhisme Tibet, Mark Epstein: Psikiater dan penulis yang menyatukan psikologi Buddhis dan Yahudi.