Pikiran Perahu Memasuki Senja Bahagia

Sahabat Wulan Bahagia, sebagai siswa Buddha kita berhati-hati merawat pikiran. Karena cara berpikir, bagaimana pikiran kita, berpengaruh terhadap kesehatan tubuh.

Pikiran yang diawasi dengan baik, akan membawa tubuh pada kondisi baik. Pikiran yang tenang membawa kesejukan bagi badan.

Sebaliknya pikiran yang dipenuhi kemarahan, kecemasan, dan penyesalan mengakibatkan jantung tidak stabil, distribusi makanan oleh darah ke tubuh jadi bermasalah, anomali ini menjadi penyakit di tubuh jasmani.

“Manopubbaṅgamā dhammā, manoseṭṭhā manomayā”
Segala sesuatu bersumber dari pikiran, dipimpin oleh pikiran, dibentuk oleh pikiran.
(Dhammapada 1)

Maksud dari sutta ini adalah, cara kita berpikir akan memengaruhi kondisi hidup kita, dalam hal ini tafsiran penulis termasuk kesehatan tubuh.

Pikiran yang dipergunakan secara salah atau larut dalam kemarahan, penyesalan dan kekecewaan cenderung mengabaikan bahkan merusak tubuh, baik dari dalam (batin) maupun luar (fisikal).

Pikiran Sakit, Tubuh Ikut Sakit
Buddha mengajarkan keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan (moha) adalah racun batin. Bila racun ini sering muncul, tubuh ikut menerima dampaknya.

1. Sering marah akan memacu jantung berdebar, lalu tekanan darah naik.

2. Khawatir berlebihan mengakibatkan sulit tidur, tubuh lemas.

3.Menyimpan dendam lama mengakibatkan dada sesak, tubuh mudah sakit.

Dalam Saṃyutta Nikāya, Buddha menjelaskan bahwa penderitaan batin (dukkha cetasika) dapat memperberat penderitaan jasmani.

Sahabat Wulan Bahagia, bagi lansia, pikiran yang terus memikirkan masa lalu dengan penyesalan dan kemarahan justru membuat tubuh semakin lemah.

Pikiran Tenang, Tubuh Menjadi Ringan
Sebaliknya, pikiran yang damai membawa manfaat besar bagi kesehatan. Para bijaksana akan memuji kualitas batin seperti: Sabar (khanti), Penerimaan (upekkhā), Cinta kasih (mettā)

Arogya paramā lābhā”
Kesehatan adalah keuntungan tertinggi.
(Dhammapada 204)

Jika kita mengembangkan pikiran positif: Penerimaan, memaafkan, mensyukuri yang ada dengan berpikir:


Ini proses alamiah”


“Saya bersyukur masih bisa bernapas hari ini”


“Saya memaafkan dan melepaskan”


Biasanya kita akan merasakan tubuh lebih ringan, tidur lebih nyenyak, dan hati lebih bahagia.

Latihan Pikiran Sederhana
Tak butuh latihan berat. Ada latihan ringan dan aman yang bisa dilakukan lansia setiap hari.

a. Menyadari Napas
Duduk atau berbaring dengan nyaman, sadari:


Saya sedang menarik napas… saya sedang menghembuskan napas.”


Latihan ini menenangkan pikiran dan membantu tubuh rileks.


b. Mengembangkan Mettā
Selanjutnya kita bisa berlatih mengembangkan cinta kasih. Pertama-tama kita harus mencintai diri sendiri, dengan berucap perlahan dalam hati:


Semoga saya sehat.”


Semoga saya damai.”


Semoga saya berbahagia"


Kemudian setelah merasakan getar damai dan bahagia, kita bisa berimajinasi getaran damai dan bahagia dalam diri kita seperti vibrasi atau cahaya yang terus memancar dan meluas ke sekeliling kita, ke depan, ke belakang, ke kiri, ke kanan, ke atas, ke bawah, ke segala penjuru kepada semua bentuk kehidupan dengan berucap:

"Semoga semua makhluk berbahagia.”

c. Menerima Ketidakkekal
Buddha mengajarkan anicca (ketidakkekalan). Tubuh berubah bukan karena kesalahan, tetapi karena hukum alam.


Pikiran menerima membuat tubuh tidak melawan kenyataan, sehingga penderitaan berkurang.

Penutup
Usia senja bukan penghalang untuk hidup bahagia. Pikiran yang dilatih dengan benar, walaupun tubuh menua, kita akan menua dengan bijak, sehat, damai dan bahagia.

Dengan berpikir bijak, menerima, dan penuh cinta kasih, kesehatan batin terjaga dan tubuh pun ikut merasakan manfaatnya.

Pikiran yang terlatih membawa kebahagiaan.”
(Dhammapada 35)

Previous
Previous

Lapar adalah Obat

Next
Next

27 Hobi Ciamik Lansia