DAN INI PUN AKAN BERLALU
Sahabat Wulan Bahagia,
Kita akan merenungkan sebuah kalimat sederhana, tetapi sangat dalam maknanya:
“Dan ini pun akan berlalu.”
Ketika muda, mungkin kita merasa hidup akan berlangsung sangat lama. Kita mengejar banyak hal: pekerjaan, harta, keluarga, kedudukan, kekuasaan dan berbagai keinginan dan kenikmatan lainnya, seolah kita akan hidup seribu tahun mengalahkan Pay Su Chen, siluman ular putih.
Tetapi seiring usia bertambah, kita menyadari, segala sesuatu berubah. Rambut yang dulu hitam, sekarang memutih. Tubuh yang dahulu kokoh, sekarang mudah lelah. Mata yang dahulu presisi, sekarang membutuhkan kacamata. Pendengaran tak lagi setajam dahulu. Anak-anak yang dulu kita gendong, sekarang memiliki kehidupan sendiri. Langkah kaki kita pun mulai tertatih.
Dan kita pun mulai menyadari segala sesuatu berubah, waktu yang berlalu tak akan kembali.
Dalam Dharma, perubahan ini disebut anicca, ketidakkekalan.
Sahabat Wulan Bahagia, apa pun yang muncul, suatu saat akan berlalu. Kesedihan akan berlalu.
Rasa sakit akan berlalu, Kekhawatiran akan berlalu, kesepian akan berlalu, bahkan kebahagiaan pun akan berlalu.
Karena itu, ketika kita sedang mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan, kita dapat mengingat:
“Dan ini pun akan berlalu.”
Ketika sedang sakit:
“Rasa sakit ini akan berlalu.”
Ketika sedang sedih:
“Kesedihan ini akan berlalu.”
Ketika sedang khawatir:
“Kekhawatiran ini juga akan berlalu.”
Kalimat sederhana ini bukan berarti kita mengabaikan masalah. Justru kita belajar melihat kenyataan dengan lebih tenang.
Jangan Terlalu Melekat
Salah satu sumber penderitaan adalah ketika kita ingin sesuatu tetap seperti yang kita inginkan.
Kita ingin tubuh tetap sehat. Kita ingin orang yang kita cintai selalu bersama kita. Kita ingin anak-anak selalu dekat. Kita ingin kehidupan berjalan sesuai rencana.
Tetapi kehidupan tidak selalu mengikuti keinginan kita.
Karena itu, semakin kita memahami ketidakkekalan, semakin kita belajar melepaskan kemelekatan.
Melepaskan bukan berarti tidak mencintai.
Melepaskan berarti mencintai tanpa memaksa kehidupan untuk selalu berjalan sesuai keinginan kita.
Kita tetap menyayangi anak-anak, tetapi kita memahami bahwa mereka mempunyai kehidupannya sendiri.
Kita tetap menyayangi pasangan dan keluarga, tetapi kita memahami bahwa suatu hari perpisahan pasti terjadi.
Kita menjaga tubuh sebaik mungkin, tetapi kita juga memahami bahwa tubuh ini akan mengalami perubahan.
Inilah latihan Dharma.
Usia Tua Bukan Kegagalan
Sahabat Wulan Bahagia,
Kadang kita memandang usia tua sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Padahal usia tua adalah bagian alami kehidupan. Tak perlu malu karena rambut memutih. Tak perlu merasa rendah diri karena tubuh tak sekuat dahulu. Tidak perlu merasa kehidupan sudah tidak berguna hanya karena usia bertambah.
Justru usia memberikan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang: pengalaman.
Kita telah melewati banyak hal. Pernah bahagia.
Pernah sedih. Pernah berhasil. Pernah gagal. Pernah kehilangan. Pernah mendapatkan sesuatu yang kita cintai. Semua pengalaman itu dapat menjadi guru. Karena itu, usia tua dapat menjadi kesempatan untuk semakin mendalami Dharma. Bukan lagi terlalu sibuk mengejar dunia, tetapi mulai bertanya:
“Apa yang benar-benar penting dalam kehidupan saya?”
“Apa yang masih perlu saya lepaskan?”
“Sudahkah saya berdamai dengan diri sendiri?”
“Sudahkah saya memaafkan?”
“Sudahkah saya hidup dengan penuh kesadaran?”
Ketika Kehilangan Datang
Suatu hari, kita mungkin kehilangan orang yang kita cintai. Ini bukan sesuatu yang mudah. Dharma tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh menangis. Menangis adalah bagian dari pengalaman manusia. Kita boleh merasakan sedih. Kita boleh merasakan kehilangan. Tetapi setelah itu, perlahan-lahan kita belajar menerima kenyataan. Kita dapat berkata kepada diri sendiri:
“Saya pernah memiliki kesempatan mencintai orang ini. Saya bersyukur pernah berjalan bersamanya.”
Daripada hanya memikirkan:
“Mengapa dia pergi?”
kita dapat belajar mengatakan:
“Terima kasih telah pernah hadir dalam kehidupan saya.”
Inilah perubahan cara pandang yang dapat membawa kedamaian.
Hidup di Saat Ini
Sahabat Wulan Bahagia, Masa lalu sudah berlalu. Masa depan belum datang. Yang benar-benar kita miliki adalah saat ini. Maka ketika sedang makan, sadarilah makanan. Ketika sedang minum, sadarilah minuman. Ketika berbicara dengan anak atau cucu, hadirkan perhatian sepenuhnya. Ketika berjalan, rasakan langkah kaki. Ketika duduk bermeditasi, perhatikan napas. Sebab pada akhirnya, bukan berapa lama kita hidup yang paling penting. Yang penting adalah bagaimana kita menjalani kehidupan ini.
Apakah kita hidup dengan penuh kebencian atau dengan cinta kasih? Apakah kita hidup dengan ketakutan atau dengan kebijaksanaan? Apakah kita terus menggenggam atau belajar melepaskan?
Selama masih ada kesempatan untuk berbuat baik, mari kita berbuat baik. Dan ketika sesuatu yang tidak menyenangkan datang, kita belajar menghadapinya dengan tenang:
“Ini sedang terjadi.”
“Saya menyadarinya.”
“Saya menerimanya.”
“Dan ini pun akan berlalu.”